Tampilkan postingan dengan label Footballovers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Footballovers. Tampilkan semua postingan

27 Agustus, 2008

Sejarah Arema



Arema dan Arema Fans Club

PS Arema didirikan pada tanggal 11 Agustus 1987 oleh H. Acub Zaenal dan Ir. Lucky Zaenal. Dari awalnya Arema klub swasta. Pada waktu Arema berdiri Liga Indonesia dibagi dua: liga untuk klub semi-profesional bernama Galatama dan Liga klub Perserikatan. Klub-klub Perserikatan tergantung pada pemerintah daerah untuk dana. Sementara klub Galatama tergantung pada sponsor swasta. Walaupun Arema belum pernah juara selama zaman Ligina, Arema juara Galatama pada tahun 1993. Pada tahun 1994 klub semi-profesional digabungkan dengan klub Perserikatan untuk menjadi Ligina.
Pada tahun 1988 yayasan Arema Fans Club (AFC) berdiri. Ketua pertamanya adalah Ir. Lucky Zaenal. Pada awalnya ada 13 korwil. Setiap korwil adalah pengurus hal suporter Arema di sebuah kampung atau daerah di Malang.
Di artikel “Aremania Junjung Sportivitas” diterbitkan di Bestari, no.156, 2001 diceritakan bahwa menurut suporter Arema, AFC itu sangat individual, yaitu berkaitan dengan hubungan antara suporter dengan suporter lain. Akibatnya AFC terhadap kesulitan mendorong kerukunan suporter. AFC pernah dianggap sebagai yayasan yang terlalu ekslusif maupun kelas menengah untuk diterima oleh kebanyakan suporter Arema.
Sekitar tahun 1994 AFC dibubarkan. Menurut Lucky Zaenal itu karena banyak kesibukan dan soal generasi. Walaupun keadaan tokoh-tokoh AFC pasti mempengaruhi keruntuhan AFC, harus ditanyakan mengapa AFC tidak diteruskan oleh kelompok atau orang baru. Mungkin itu tidak terjadi karena sudah jelas bahwa AFC tidak didukung oleh suporter. Barangkali tokoh-tokoh AFC sadar pada fakta itu. Makanya mantan-tokoh AFC langsung terlibat dalam proses mengembangkan nama dan simbol yang akan mempersatukan suporter. Memang tidak semua inisiatif AFC gagal. Harus diingatkan bahwa dengan AFC mulai sistem organisasi suporter yang berdasarkan pada korwil. Korwil-korwil tidak hilang dengan kematian AFC tetapi jumlahnya bertambah. Di samping itu AFC berdiri dalam konteks keras yaitu pada waktu geng-geng pemuda Malang merupakan para suporter Arema.

Brutalisme ke Hooliganisme
Ada dua istilah yang dipakai untuk menggambarkan suporter yang tidak sportif dan membuat kerusuhan: suporter brutal dan hooligan. Artinya dua istilah hampir sama. Perbedaan antara dua istilah itu hanya soal konteks. Istilah hooligan itu berasal di luar konteks Indonesia dan bersifat perbandingan. Istilah suporter brutal lebih sering dipakai dalam konteks Indonesia. Hooligan sama dengan suporter brutal karena yang jelas kegiatannya berdasarkan pada egoisme buruk. Seorang hooligan mau membuat kerusuhan dan kekerasan untuk membesarkan egonya. Seorang hooligan tidak ikut pertandingan untuk menikmati sepak bola tetapi untuk membuat kericuhan. Seorang Hooligan adalah musuh perkembangan sepak bola apalagi komunitas suporter murni. Akhirnya kalau memakai contoh suporter brutal Arema kelihatannya perbedaan antara dua istilah hanya soal konteks.
Suporter Arema menjadi terkenal atas brutalisme antara waktu Arema berdiri dan pertengahan tahun 1990-an. Ada kekerasan antara suporter walaupun Arema menang atau kalah. Pada waktu itu beberapa geng pemuda merupakan para suporter Arema. Setiap kampung memiliki geng sendiri. Yang berikutnya adalah daftar nama geng-geng Malang sama tempat asalnya kalau ada.
Nama Geng Tempat Asal :
Aregrek Sekitar Jl. Basuki Rachmat
Arnak (Armada Nakal) Sukun
Anker (Anak Keras) Jodipan
Argom (Armada Gombal) Kidul Dalem
Arpanja (Arek Panjaitan) Betek
Fanhalen (Federasi Anak Nakal Halangan) Claket
SAS (Sarang Anak Setan)
Geng Inggris Kasin Jrot Ermera
Saga (Sumbersari Anak Ganas)

Geng-geng ini membuat suasana menakutkan di stadion. Tempat pertandingan menjadi kesempatan untuk geng-geng tersebut membuktikan siapa yang paling keras. Persaingan keras antara geng-geng terjadi walaupun semuanya medukung Arema. Jadi semua upaya untuk membuat suporter Arema rukun dan kompak dihalangi. Tawuran terjadi antara suporter Malang dan suporter dari luar tetapi juga di antara para suporter Arema sendiri. Bentrokan tidak terjadi karena provokasi tetapi disebab oleh suasana brutalisme ditimbulkan suporter Malang. Masih diingatkan oleh suporter Arema (dengan malu) bahwa suporter Malang brutal sebelum suporter Surabaya menjadi brutal. Akhirnya, waktu antara 1987 dan pertengahan tahun 1990-an suporter Arema membuktikan bahwa mereka bisa mengimbangi egoisme Hooligan Inggris. Suporter Malang menjadi terkenal sebagai Hooligan Indonesia. Sering selama akhir 1980-an dan awal 1990-an sering ada tawuran antara suporter Surabaya dan Malang. Sayangnya persaingan keras itu antara Bonek dan suporter Arema sulit dibatasi. Di Surabaya orang dari Malang diganggu dan kendaraan yang berplat N (plat Malang) dirusak.
Sementara di Malang kendaraan yang berplat L (plat Surabaya) mengalami hal yang serupa. Pada tahun 1992 ada semacam `sweeping’ menghadapi orang yang berKTP Surabaya. Polisi terpaksa melakukan operasi untuk menghentikan aski brutal itu. Akhirnya permusuhan berkembang bukan untuk orang asal Surabaya tersebut melainkan antara suporter saja. Lagipula Bonek nama suporter Surabaya menjadi istilah berarti hooligan Indonesia. Jadi kata bonek yaitu yang tidak pakai huruf besar artinya hooligan walaupun Bonek itu berarti suporter Surabaya. Karena persaingan keras itu sering Aremania dan Bonek dianggap sama saja. Khususnya di luar Malang banyak orang yang bersikap bahwa Aremania adalah bonek juga. Banyak orang tidak membedakan antaranya. Selama tahun-tahun itu masyarakat Malang tutup jendela dan mengunci pintu kalau ada pertandingan Arema. Sekarang suporter Arema telah benar-benar maju tetapi terhadap peringatan masyarakat yang menganggap bahwa mereka masih brutal.

Aremania muncul
Pada pertengahan tahun 1990-an geng-geng Malang mulai luntur. Sementara itu istilah Aremania muncul sebagai nama para suporter Arema. Sebetulnya dua fenomena tersebut merupakan perubahan total dalam budaya pemuda Malang yang dikatalisasikan oleh beberapa tokoh. Di artikel `Aremania Mengukir Sejarah Baru’ diterbitkan di Bestari, no. 156, 2001 Gus Nul mantan pelatih Arema menceritakan bahwa walaupun kurang jelas dari mana istilah Aremania itu muncul, nama itu mempersatukan suporter Arema. Secara psichologis persamaan dasar antara Arema dan Aremania membuat suporter merasa bersatu. Kata Aremania bisa dibagi Arema dan Mania. Aremania itu muncul secara spontan dari suporter Malang yang mulai bosan dengan perkelahian geng-geng tersebut. Ada beberapa alasan untuk perubahan itu. Pertama-tama geng-geng mulai luntur karena soal generasi. Anggota geng walaupun masih muda selama akhir 1980-an, di pertengahan 1990-an lebih dewasa. Karena sudah lumayan tua mulai bosan dengan kegiatan geng.
Di samping itu, pada 1994 Ligina yang pertama dimulai dan PSSI mulai mendorong sepak bola Indonesia menjadi lebih profesional. Pemain asing mulai main untuk klub Indonesia. Itu termasuk upaya untuk menaikkan kualitas liga sepak bola. Pemain asing pernah main untuk Arema. Pernah ada pemain dari Afrika, Amerika Selatan, Korea Selatan dan juga Australia. Dari semua ini yang paling terkenal ada pemain dari Negara Chile bernama Rodriguez `Paco’ Rubio. Sekarang menurut suporter Malang dia semacam pahlawan sepak bola Arema. `Paco’ Rubio menembus gol lawan selama putaran Delapan Besar Ligina VI. Di samping itu, selama Ligina VII ada pemain dari Afrika namanya Frank Bob Manuel yang dengan sayang dipanggil `Bobby’ (selama Ligina VIII main untuk klub perserikatan Malang Persema). Selama Ligina VIII Jaime Rojas (mantan pemain Persema) juga berasal dari Chile masuk klub.
Dengan berupaya ke profesionalisme suporter mulai lebih tertarik pada permainan khususnya karena impor pemain luar negeri. Juga ada pemain lokal yang menjadi bintang. Misalnya Ahmad Junaedi selama Ligina VI tetapi setelah itu dia pindah ke Persebaya dan menjadi musuh suporter fanatik. Akhirnya mau kembali ke Arema dia ditolak oleh pengurus Arema. Daripada membeli Junaedi lagi mereka memilih mendidik pemain muda berasal dari Jawa Tengah bernama Johan Prasetyo. Johan Prasetyo telah menjadi bintang Aremaa Selain Prasetyo ada Aji Santoso, pemain yang berpengalaman itu pernah main untuk timnas Indonesia. Karirnya setelah di Arema ke Persebaya dan kemudian ke PSM Makassar. Akhirnya main untuk Persema sebelum main di Arema lagi.
Dengan impor pemain asing dan perhatian pada pemain profesional orang Indonesia, yang berkembang antara para suporter Indonesia adalah minat pada sepak bola bukan fanatisme terhadap klub saja. Di artikel `Suporter Bergeser Jadi Football Minded’ diterbitkan di Jawa Pos 9 Maret 2002 perubahan sikap suporter digambarkan. Ternyata bahwa para penonton mulai memilih menonton pertandingan menurut suguhan kualitas sepak bolanya. Yaitu penonton mulai memilih pertandingan dengan lawan kualitas sepak bola tinggi. Barangkali suporter Indonesia dipengaruhi tayangan sepak bola dari luar negeri. Suporter mulai menuntut kualitas dari sepak bola Liga Indonesia.
Di samping itu perubahan suporter Malang didorong beberapa tokoh perintis Aremania. Sebenarnya munculnya generasi geng dapat dicegah karena upaya tokoh Aremania. Di artikel `Aremania Sebuah Gerakan Rakyat’ diterbitkan di Kompas, 1 April 2002 diceritakan bahwa suporter didorong oleh tokoh seperti Ovan Tobing, Lucky Zaenal, Iwan Kurniawan, Eko Subekti dan Leo Kailolo untuk menjadi suporter bersatu dan sportif. Pasti mereka sadar bahwa suporter brutal akan merugikan PS Arema, dan kalau klub Arema akan berusaha ke profesionalisme seharusnya suporter juga. Tokoh tersebut membantu membangun simbol klub Arema yang telah menjadi simbol suporter juga. Di artikel `Aremania junjung sportivitas’ diterbitkan di Bestari, no 156 2001 bahwa tokoh perintis ini mengusulkan Aremania dijuluki `Macan Putih’ atau `Singa Putih’ karena Arema berdiri pada 11 Agustus yang termasuk zodiak Leo. Kemudian secara spontan ada orang antaranya yang teriak `edan’. Mungkin itu mucul dari bagian belakang istilah Aremania yaitu `mania’. Kata `mania’ berarti edan.
Dari latar belakang nama Aremania dan simbol Singo Edan semacam bahasa Malang berkembang. Kata-kata bahasa Indonesia dan bahasa Jawa terbalik merupakan bahasa Malang atau fenomena Ngalamania. Misalnya Singo Edan menjadi Ongis Nade dan Orang Malang menjadi Genaro Ngalam. Di samping itu arek-arek Malang menjadi Kera-kera Ngalam. Surat kabar Radar Malang itu Jawa Pos-nya Kera Ngalam. Sekitar pertengahan tahun 1990-an suporter Arema mulai berubah. Citra negatif terhadap suporter Arema ada sampai sekarang tetapi selama beberapa tahun yang lalu Aremania pernah diakui sebagai suporter Indonesia terbaik.
Pada waktu ribuan suporter ke Jakarta untuk putaran Delapan Besar Ligina VI Ketua Umum PSSI Agum Gumelar terkesan oleh penampilan suporter Arema di Stadion Senayan. Dia mengakui Aremania sebagai suporter kreatif, sportif dan atraktif. Di samping itu PSSI pernah mengundang Yuli Sugianto (dirigen suporter Arema) untuk mewakili suporter Indonesia. Selama Ligina VII sering diakui oleh suporter klub lain sebagai guru suporter lain. Pada Januari tahun 2001 di Tangerang, suporter mengucapkan selamat datang kepada Aremania dan sesudah ada insiden lemparan terhadap Aremania mereka mengucapkan termima kasih karena Aremania tidak terpancing oleh oknum provokator Tangerang. Pada Juli tahun itu diakui oleh suporter Solo sebagai `guru hebat’.
Lagipula kemajuan Aremania mempengaruhi keadaan di Malang. Selama waktu krismon, Malang tenang walaupun dimana-mana di Jawa telah kacau. Itu karena pemuda Malang telah merasa bersatu sebagai Aremania dan tidak ingin membuat kerusuhan di kotanya. Katanya ada suporter Solo yang mengirim sepasang bh dan celana dalam perempuan ke Aremania agar mengucapkan Aremania para penakut. Namun Aremania tidak mudah dipancing. Yang jelas dalam lingkungan suporter sepak bola telah dianggap maju dari masa dulunya. Lagipula mereka dianggap perintis suporter di Indonesia. Namun proses ini mulai lebih dari 5 tahun yang lalu dan Aremania sampai tahun 2001 berjuang untuk menghapus sisa-sisa brutalisme.

Sisa-sia Brutalisme
Aremania tidak langsung berhasil dalam perjuangan untuk menghapus citra suporter brutal. Sampai tahun 1999 ada bentrokan antara suporter di Malang tetapi khususnya dengan Bonek. Keadaan kacau hampir tidak bisa dicegah aparat keamanan. Persaingan keras antara suporter Malang dan Surabaya terjadi selama ada kesempatan Arema melawan Persebaya. Akibatnya di Malang suporter Surabaya harus dilarang masuk Malang supaya mencegah insiden yang tidak diinginkan.
Pengurus Arema pernah minta pertandingan Arema versus Persebaya diadakan di luar Malang agar tidak ada tawuran. Namun ini diprotes Aremania yang menuntut bahwa pertandingan Arema tetap milik masyarakat Malang. Namun tahun-tahun tersebut harus dibedakan dari zaman geng-geng. Mungkin tahun-tahun yang berikut kelunturan geng-geng Malang bisa dianggap sebagai waktu peralihan. Sampai tahun 2001 ada insiden yang terjadi di luar Malang. Salah satu contoh konflik antara suporter Malang dan Surabaya adalah tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei tahun 2001.

Tragedi Sidoarjo
Pada Ligina VII Aremania mendukung tim kesayangannya di pertandingan away. Arema melawan Gelora Putra Delta (GPD) di Sidoarjo. Soalnya tiga kelompok suporter mucul di stadion Delta: Deltamania, Aremania dan Bonek. Karena jarak antara Surabaya dan Sidoarjo jumlah sedikit suporter Surabaya datang untuk menjenkelkan suporter Arema. Tiga kelompok ini dibagi supaya tidak ada bentrokan. Aremani menempati sektor utara sementara Bonek dan Deltamania ada di tribun VIP. Pertama-tama sebelum pertandingan mulai sekitar jam 14. 15 ada lemparan batu dari luar stadion. Dua suporter Arema terluka dan Aremania menuntut bahwa tempat di luar stadion khususnya sekitar sektor utara diamankan. Di samping itu Aremania dimarahkan kabar bahwa dua mobil Aremania dirusak. Pada jam 15.10 lemparan batu antara sektor utara dan tribun timur mulai. Polisi terhadap kesulitan membatasi lemparan karena Bonek dapat sumber batu dari luar stadion.
Pada jam 16.00 pertandingan sepak bola dimulai. Pada jam 16.20 aparat keamanan megeluarkan tembakan peringatan untuk menghentikan lemparan. Pada menit ke-29 pertandingan harus dihentikan karena suporter masuk lapangan dan kerusuhan mulai terjadi di luar stadion. Aremania harus dievakuasi oleh aparat keamanan. Akhirnya 15 orang terluka, 7 mobil dan 2 sepeda motor dirusak. Juga stadion Delta dihancur dari aksi lemparan dan bentrokan yang berikutnya. Reaksi Aremania penuh dengan kesedihan terhadap tragedi Sidoarjo. Para suporter Arema merasa mereka salah dipersalahkan untuk tragedi Sidoarjo walaupun Bonek adalah provokator. Pak Marheis salah satu korwil Aremania yang dianggap oleh sebagian suporter sebagai tokoh yang memperbolehkan ketertiban antara korwil-korwil tidak bisa menahan tangisnya setelah insiden Sidoarjo.
Ovan Tobing seorang perintis Aremania setelah tragedi itu berpendapat bahwa tragedi di Sidoarjo merupakan pelajaran untuk PSSI. Pada waktu Arema main di Malang Aremania membawa spanduk yang protes disalah untuk kejadian di Sidoarjo. Sayangnya bahwa insiden seperti itu menegaskan citra Aremania sebagai suporter brutal karena dalam insiden itu Aremania sebetulnya di kedudukan sulit. Pertama-tama mereka dilempari dari luar stadion. Lagipula mereka terhadap Bonek yang siap dengan sumber batu dari luar stadion.

Aremania diserang di Jogja
Selain masalah Bonek ada kelompok lain yang iri pada Aremania jadi mencoba memancingnya. Pada bulan Oktober tahun 2001 Aremania diundang ke pertadingan di Jogjakarta. Di Jogja Aremania diserang. Seperti di Sidoarjo ada lemparan batu dari luar stadion. Aremania terpaksa masuk lapangan untuk menghindari lemparan dari luar stadion. Pertandingan dihentikan dan harus dimain hari berikutnya di tempat yang dirahasiakan. Slemania, para suporter Jogja pada umumnya sangat malu pada penyerangan itu. Mereka mulai menyanyi dengan gaya Aremania:
“Maaf?maaf?maaf Aremania
Maafkan kami atas kejadian ini”
Pada umumnya ada persahabatan antara Aremania dan para suporter lain tetapi kadang-kadang ada oknum kelompok yang mencoba memancing Aremania. Dan jarang Aremania terpancing dengan mudah. Selama Ligina VIII tidak ada masalah bentrokan kalau suporter lain datang ke Malang. Aremania membuktikan bahwa telah sportif. Suporter apalagi pemain saja butuh sportivitas.
Setelah kejadian seperti di Jogja Aremania janji mereka tidak akan membalas dendam kalau suporter Sleman datang ke Malang. Korwil Cilewung juga mendorong Aremania untuk tidak membalas dendam Bonek. Dia sadar bahwa kalau membalas dendam pasti tidak akan dibedakan dari Bonek. Harus diakui walaupun lama berjuang dengan sisa-sisa brutalisme Aremania telah agak berhasil dalam tugasnya.
Suporter Arema bersemangat kepada tim kesayangannya tetapi juga kepada negara Republik Indonesia. Dengan kompak suporter Arema sebelum permulaian pertandingan menyanyi lagu nasionalis `Padamu Negeri’. Lagu itu dinyanyi suporter dengan bangga. Nasionalisme merupakan salah satu aspek dasar suporter Arema.
Aremania mendukung Arema tetapi akhirnya semua maupun suporter tim lawan bersaudara. Malang aman karena persaudaraan itu. Lagipula Malang lepas daripada masalah pertentangan kesukuan atau konflik agama yang timbul di mana-mana di Indonesia. Aremania berpendapat bahwa kalau Malang bisa begitu rukun, mengapa negara Indonesia belum bisa seperti itu? Yang jelas persatuan Aremania muncul secara alami dan karena itu ada sikap positif terhadap persatuan negara Indonesia.


sumber: http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/john.doc
Laporan Studi Lapangan
AREMANIA: DARI LATAR BELAKANG HOOLIGANISME KE PARA SUPORTER SEPAK BOLA TELADAN
oleh: John Psilopatis
Universitas Muhammadiyah Malang Bekerja sama ACICIS
Semester Februari-Juni 2002

MILITANSI HARGA MATI....!!!



Meskipun kejadian ini sudah b'lalu beberapa bulan, namun tetap saja tidak bisa hilang dari "memoriku". Ketika rasa amarah, emosi, dan fanatisme bercampur aduk. Rasa bangga dan bersalah pun sudah tidak lagi bisa aku bedakan. Yang ada hanyalah rasa menjaga harga diri. Harga diri yang telah tercabik-cabik oleh sebuah skandal atau skenario busuk pihak-pihak tertentu yang memang telah merencakan kejadian kelabu Rabu 16 Januari 2008 di Stadion Brawijaya Kediri.

Menurut cerita beberapa rekan Aremania dan rekaman Handycam yang aku saksikan. Perjalanan berangkat melalui rute selatan (Blitar) berjalan lancar. Sambutan masyarakat pun sangat hangat. Tetapi begitu masuk kota Kediri dan mendekati area Stadion Brawijaya, bukan sambutan hangat yang diterima, tapi lemparan batu dari oknum Persikmania. Untungnya insiden tidak bertambah besar dan semua rombongan bisa masuk stadion dengan tertib sekitar jam 5 sore. Mereka pun masih sempat berbaur bersama Sriwijaya Mania menjadi satu menyaksikan sisa pertandingan PSMS Medan vs Sriwijaya FC yang berakhir 2-2.

Pertandingan berikutnya yang ditunggu-tunggu Aremania yaitu Arema vs Persiwa menjadi awal tragedi ini. Suporter mana yang tidak marah ketika 3 gol timnya dianulir? Belum lagi kepemimpinan wasit dan AW yang sejak awal seperti sudah menerima “paket pesanan”. Mungkin anda masih ingat Final Copa tahun 2005 lalu ketika Arema mengalahkan Persija, siapa wasit yang memberi kartu merah terhadap Alex Pulalo dan yang memberi hadiah Penalti terhadap Arema? Dialah Jajat Sudrajat wasit yang juga memimpin pertandingan antara Arema vs Persiwa ini. Saat Aremania dizolimi sekali mereka masih bisa sabar (gol Pato dianulir), dua kali (gol Pato kembali dianulir) muncul peringatan pertama (AW1 dipukul salah satu Aremania), ketika kezoliman ketiga muncul (gol Mbamba dianulir) alias hattrick zolim dalam satu pertandingan, amarah pun meledak. Itu belum termasuk kezoliman lainnya seperti hak penalti atas pelanggaran terhadap Elie Aiboy dan kejadian-kejadian lainnya.

Ketika amarah tersebut meledak, dalam 5 menit kemudian terciptalah bara di Stadion Brawijaya Kediri. Stadion Brawijaya Kediri hancur, seiring membumbungnya asap yang seakan bicara: “PSSI, inilah hasil dari kerja ga becusmu selama ini”

Awal yang tidak hangat tersebut berlanjut menjadi sebuah tragedi. Stadion Brawijaya hancur. Oke, itu adalah ulah Aremania, secara fair aku tidak menyebut “oknum” karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri (meskipun hanya dari rekaman handycam). Begitu kerusuhan di stadion memuncak, nawak2 Aremania dari Klojen, Jodipan dan Otrahum langsung menuju bis. Tidak lama kemudian, seluruh rombongan Aremania langsung bergerak pulang meninggalkan stadion sekitar jam 8-9 malam.

Tapi, itu adalah awal tragedi yang lebih besar. Rekan-rekan Aremania baru sadar kalo mereka semua ibarat menuju medan perang yang telah disiapkan lawan. Di selatan daerah Pule, Kandat, dan Blabak (klo ga salah ingat siy...) itu lah “perang” terjadi. Seluruh lampu jalan dan rumah penduduk seperti sengaja dipadamkan. Dari kegelapan kebun & sawah muncul batu sebesar tangan orang dewasa mengarah ke mereka para rombongan Aremania. Dari setiap persimpangan gang-gang yang dilalui selalui dicegat oleh para oknum Persikmania. Duel fisik pun tidak terjadi. Saling lempar batu, saling pukul, saling keroyok. Kaca-kaca bis dan kendaraan rombongan Aremania hancur. Kaca-kaca rumah penduduk pun ikut jadi korban.

Strategi pengecut dari oknum Persikmania yang memanfaatkan perkampungan penduduk memang menyulitkan teman-teman dalam memberikan perlawanan. Berhenti berarti konyol, jalan pun jadi sasaran empuk. Sementara para aparat polisi dan brimob tidak mampu mengendalikan suasana.

Teman-temanku berada di bis 8. Mungkin bis ini termasuk yang paling aman karena lemparan-lemparan batu tidak sampai membawa korban. Di rombongan yang lain terlihat kaca-kaca bis telah “bersih” serta beberapa nawak Aremania terluka.

Selama hampir sebelas tahun menjadi suporter sepakbola, malam kemarin adalah pengalaman yg paling “mengesankan”. Andaikan “perang” tersebut berjalan “fair”, mereka akan lebih mengenangnya lagi. Apakah ini sebuah rasa fanatisme yang tertanam dalam diri hooligans? Mereka tau perbuatan memukul dan melempar itu salah, tapi ketika situasi seperti itu, rasa bersalah dan bangga sudah tidak ada bedanya lagi.

Dan Keesokan harinya seluruh media ramai-ramai membuat berita seheboh dan sefenomenal mungkin untuk memojokkan posisi Arema dan Aremania. Terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang benar, atau mungkin memang tidak ada yang benar, aku pribadi beropini tidak ada asap kalau tidak ada api. Sekali lagi, jangan injak ekor singa kalau tidak ingin sang singa marah.

Tidak pernah terlintas dalam benak teman-teman Aremania berangkat ke Kediri pulangnya dengan memori cerita seperti ini.Niat berangkat ke Kediri adalah mendukung tim Arema. Sama sekali kami tidak mempersiapkan senjata, batu, atau pentungan. Mereka hanya membawa tiket, bendera, syal, dan tentu saja beberapa bungkus rokok dan camilan.

Tidak pernah terlintas dalam pikiran teman-teman adalah mereka akan memukul “saudara sendiri”. Mereka hanyalah para penonton yang ingin menonton kesebelasan kesayangannya bertanding dengan suasana yang tenang dan berjalan damai. Mereka hanyalah para Aremania yang senang menonton Arema tiap main di Kanjuruhan atau Gajayana. Ketika emosi dan harga diri diinjak, sebuah rekasi atas aksi adalah hal yang lazim terjadi dan tidak bisa kita hindari.

Kediri 16 Januari 2008 adalah sebuah skenario yang berjalan sangat lancar. Mereka yang merencakannnya pasti tertawa dan bertepuk tangan dengan tercorengnya nama Aremania pasca tragedi malam tersebut. Terlalu banyak kecurangan dan kezoliman yang diterima oleh Aremania selama ini. Dan di Kediri itulah semua hal tersebut terakumulasi. Tanpa sadar, ternyata Aremania sudah masuk ke dalam lingkaran setan sepakbola negeri ini. Terkait kejadian tadi malam, aku sedih sebagai Aremania, aku merasa bersalah sebagai Aremania, tapi aku bangga sebagai Aremania. Sebuah pandangan subyektif dari seorang suporter sepakbola nasional yang ingin melihat sepakbolanya maju. MILITANSI HARGA MATI !!!!

25 Agustus, 2008

Goooaaallll...........

Celebrate to the Goal…...!!!

Dalam sepak bola, gol adalah penentu kemenangan sebuah tim. Bagi setiap pemain, mencetak gol merupakan suatu hal yang membanggakan. Rasanya kurang lengkap jika tidak melakukan selebrasi ataupun luapan kegembiraan seusai usai mencetak gol
Ada beberapa jenis selebrasi yang biasa digunakan oleh para pemain sepak bola dan menjadi ciri khas pemain tersebut. Dari sekian banyak pemain, ada beberapa pemain yang memiliki keunikan dalam merayakan gol. Siapa saja? Check this out!


1. Raul Gonzales Blanco
Pemain depan Real Madrid dan mantan striker timnas Spanyol ini memiliki ciri khas dalam melakukan selebrasi seusai mencetak gol yaitu dengan cara mencium cincin kawin yang terdapat di tangannya. Gaya ini juga diikuti oleh beberapa pemain sepak bola salah satunya hádala Zaenal Arif striker Persib Bandung. Tapi tetap saja Raul Gonzales yang mempopulerkannya


2. Francesco Totti
Kapten AS Roma ini merayakan gol yang dicetakNya dengan cara menghisap jempol jarinya seperti anak kecil. Selebrasi itu dilakukan untuk mengungkapkan rasa senangnya setelah dikaruniai anak hasil pernikahannya dengan Illary Blasi model asal Italia. Gaya tersebut belakangan juga diikuti oleh Robinho pemain Real Madrid setelah dirinya juga dikaruniai anak


3. Peter Crouch
Si jangkung asal Portsmouth ini mempunyai gaya yang unik untuk merayakan gol yang dicetaknya. Seusai mencetak gol dia lalu berdiri kea rah penonton dan menari seperti robot dengan gerakan patah-patah. Yang membuat dirinya akhirnya dijuluki “Robo Crouch”


4. Vincenzo Montella
Setelah mencetak gol, Montella akan merayakannya dengan berlari-lari sambil mengangkat kedua tangannya ke samping lalu menukik ke kiri dan ke kanan mirip sebuah pesawar terbang yang akhirnya membuat dirinya dijuluki “ Il Aeroplannino”


5. Robbie Keane
Striker Irlandia yang baru saja pindah dari Tottenham ke Liverpool ini mengekspresikan
golnya dengan cara berlari kearah tiang penonton lalu bersalto kemudian jungkir balik dan diakhiri dengan gaya menembak-nembak ke arak penonton


6. Gabriel Omar Batistuta
Mantan striker Fiorentina dan AS Roma ini kerap kali bergaya layaknya orang yang menembakkan senjata usai mencetak gol seakan-akan dirinya seorang tentara. Terkadang rekan-rekan setimya berbaris dan jatuh setelah “ditembaki” oleh pemain yang dijuluki “Batigol” tersebut


7. Obafemi Martins
Anda pernah menonton film kungfu? Jika ya, anda pasti pernah melihat aksi jungkir balik dan berputar-putar atau biasa disebut salto. Atraksi ini juga dapat kitatemukan di pentas sepak bola. Salah satu pelakunya ialah Obafemi Martins. Pemain Newcastle United asal Nigeria ini memiliki kebiasaan unik selepas mencetak gol. Ia mencari daerah kosong sambil berlari, kemudian melakukan gerakan salto secara berulang-ulang. Seberapa banyak ia berputar di udara? Dua? Tiga? Jawabannya, Enam kali! Benar-benar aksi yang luar biasa!


8. Kaka’
Dari sekian banyak selebrasi gol yang dilakukan oleh para pemain sepak bola, ada beberapa pemain yang merayakannya secara religius. Salah satunya adalah Kaka’. Usai mencetak gol, pemain bernama lengkap Ricardo Izecson dos Santos ini melakukan selebrasi dengan mengacungkan kedua jari telunjuknya ke atas sambil menatap langit. Ia menunjukkan rasa terima kasihnya terhadap Tuhan dengan selebrasi tersebut. Kaka memang dikenal sebagai pemain yang religius dan taat terhadap agama.


9. Andy Van Der Meyde
Mantan Pemain Ajax dan Inter Milan ini biasanya merayakan gol dengan cara menembakkan sniper kearah penonton. Selebrasi tersebut dilakukan sejak dirinya membela Ajax Amsterdam yang tetap digunakan sampai sekarang


10. Alan Shearer
Siapa yang tidak pernah mendengar nama Alan Shearer? Mantan punggawa The Three Lions dan Newcastle United itu, merupakan salah satu pemain yang setia terhadap gayanya setelah mencetak gol. Dia merayakannya dengan cara berlari-lari kecil dan mengangkat tangannya ke atas mirip orang melambaikan tangan.