14 September, 2008

Liga Dagelan Indonesia


Tulisan ini saya tulis 24jam setelah kejadian. Malam itu aq dan seorang teman berniat menonton pertandingan Arema vs PKT di stadion Kanjuruhan, Kepanjen. Pertandingan resmi pertama yang aq tonton langsung dalam 3,5tahun ini. Terakhir kali aq menonton pertandingan resmi sewaktu masih kelas 2SMA, waktu itu pertandingan antara Arema vs PSIS di stadion Gajayana yang dimenangkan Arema dengan skor 1-0 dimana satu-satunya gol dicetak oleh stopper Claudio de Jesus.

Sebagai seorang Aremania langsung terasa olehku ketika memasuki stadion, terasa suasana yang luar biasa, bercampur dengan rasa kagum, rindu, dan senang ketika berbaur bersama rekan-rekan “Aremania”. Apalagi ketika bersama-sama menyanyikan Padamu Negeri bersama 35ribu “Aremania”, seluruh tubuh serasa merinding. Ketika pertandingan berjalan rasa stress serasa hilang karena bisa berteriak-teriak dengan para “Aremania” , “Umpan nang ngarep goblok”,”Kesuwen kakean giring”,”Wasite jan**k”,”Ngono thok ae ora iso ngegolno” dll. Semuanya terasa begitu indah smpai ketika memasuki kisaran menit ke70

FAKTOR WASIT
Pada menit ke (kira2 menit 72) pemain PKT mencetak gol yang diwarnai kontroversi antara offside dan onside. Dalam pandangan saya dan rekan2 lainnya gol tersebut terlihat offside karena sang pencetak gol berdiri di belakang bek Arema Aaron Nguimbat, padahal Aaron adalah pemain yang berdiri paling belakang. Namun hakim garis berpendapat gol tersebut onside, apalagi akibat gol trsbt Arema akhirnya tertinggal 1-2 sehingga memicu kemarahan penonton. Akumulasi kekecewaan penonton akan sang pengadil lapangan semakin menjadi-jadi ketika 2menit kemudian pemain Arema, Emile Mbamba terkena kartu merah hanya karena melakukan protes. Setelah kartu merah tersebut terjadilah “hujan botol” kearah lapangan diiringi ledakan mercon sampai akhir pertandingan.

Ketika pertandingan berakhir tanpa dikomando official Arema langsung turun ke lapangan memburu wasit, bahkan seorang pengurus Arema Ekoyono Hartono dapat memukul kepala wasit. Melihat hal trsbt “Aremania” seolah-olah juga tidak mau ketinggalan memburu wasit yg akhirnya dapat diamankan oleh aparat kepolisian. Apalagi ketika mereka melihat kiper ketiga Arema, Kurnia Mega dikejar-kejar anjing milik anggota polisi sehingga memicu solidaritas “Aremania” untuk melindunginya. Dalam kondisi panas tersebut, “Aremania” kemudian melakukan perusakan terhadap papan sponsor yang terdapat di pinggir lapangan dan mencabut besi-besi pembatas antara penonton dan stadion diikuti pembakaran di sudut-sudut stadion. Hal trsbt berlanjut hingga luar stadion namun arus lalu lintas tetap lancar.

Patut disayangkan terjadi kejadian anarkis pada malam tersebut, namun tidak ada asap jika tidak ada api. Faktor ketidak tegasan wasitlah yang jadi pemicunya. Seandainya sang pengadil trsbt memimpin dengan fair maka kejadian ini tidak akan terjadi. Pada saat musim lalu Arema dikalahkan Persipura dan ketika Juli lalu dikalahkan Pelita Jaya pun “Aremania” bisa menerima kekalahan trsbt, asalkan pertandingan berjalan fair. Namun jika kalah akibat faktor lain maka para penonton yang akan “menghukum”nya. Masih ingat tragedi di Stadion Brawijaya, Kediri beberapa bulan lalu yang berakhir rusuh, itupun juga akibat faktor wasit yang menganulir 3gol Arema. Jika “Aremania” yang “hanya” berjumlah 20ribu saja bisa menghancurkan stadion Brawijaya, apa jadinya jika “Aremania” yang berjumlah 35ribu kemarin juga menghancurkan stadion. Andaikan kejadian kemarin berlangsung di stadion lain mngkn tragedi Kediri akan terulang kembali. Hanya karena perasaan saling memiliki stadion Kanjuruhanlah sehingga “Aremania” hanya melakukan perusakan yang relatif kecil daripada di Kediri. Sekarang tinggal kita tunggu hukuman yang akan menanti Arema atau mungkin “Aremania” juga terkena hukuman lagi? Mengingat yang menonton kemarin malam bukanlah “Aremania” melainkan massa, karena “Aremania” sudah dihukum 2tahun tidak boleh masuk stadion di seluruh Indonesia. Itulah mengapa saya memberi tanda petik terhadap nama “Aremania”. Mungkin itulah hikmah hukuman bagi “Aremania” karena mereka bisa lolos dari sanksi yang menanti. Tapi siapa tahu komdis atau pengurus PSSI lainnya akan memberikan hukuman tambahan thdp “Aremania” mengingat selama ini mereka selalu berubah-ubah dalam memberikan keterangan atau hukuman. Inilah wajah persepakbolaan kita, jika petinggi PSSI saja tdk konsisten apalagi bawahannya. Masih pantaskah liga kita ini bernama Liga Super Indonesia? Mungkin lebih pantas bernama Liga Dagelan Indonesia.